Jl. Nira Watro, Desa Kmp. Baru , Kec. Banda, Maluku Tengah, Maluku 97593 | (0910) 21013 / (0910) 21013 | sma1_banda@yahoo.co.id

RUANG LINGKUP BIOLOGI (METODE ILMIAH)

Senin, 03 Agustus 2020 06:12


RUANG LINGKUP BIOLOGI (METODE ILMIAH)

Metode Ilmiah

Metode ilmiah adalah langkah – langkah yang dilakukan secara berurutan dan sistematis untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Metode ilmiah dalam biologi sangatlah mendukung karena dalam penerapannya ilmu biologi juga mengenal adanya kerja praktik untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Dengan adanya metode ilmiah, sebuah kerja praktek bisa dilaksanakan secara tersusun dan terarah. Metode ilmiah dalam biologi tidaklah jauh berbeda dengan metode ilmiah yang biasa diterapkan dalam ilmu – ilmu lainnya.

Langkah-langkah metode ilmiah dalam biologi adalah sebagai berikut :

a. Merumuskan Masalah

Perumusan masalah ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan – pertanyaan mengenai objek penelitian. Ketentuan dalam merumuskan masalah adalah sebagai berikut:

  • Pertanyaan harus dirumuskan secara singkat dan jelas
  • Pertanyaan tidak menimbulkan penafsiran ganda
  • Rumusan masalah dinyatakan dengan kalimat tanya misalnya : apakah, bagaimana, dan mengapa.
  • Rumusan masalah minimal mengandung 2 variabel. Variabel merupakan faktor – faktor yang mempengaruhi eksperimen yang memiliki ukuran dan dapat diukur.Jenis – jenis variabel tersebut yaitu :
  •  Variabel bebas/manipulasi yaitu faktor yang diubah oleh sang peneliti
  •  Variabel terikat yaitu faktor yang berubah tergantung perubahan variabel bebas. Selain itu dalam penelitian biasanya juga digunakan variabel kontrol. Variabel kontrol yaitu faktor yang sengaja tidak diberi perlakuan untuk pembanding.Salah satu contoh rumusan masalah adalah  “Apakah dosis pupuk urea berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau?” 

b. Mengajukan hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan sementara atau bisa juga didefinisikan sebagai jawaban sementara dari rumusan masalah. Sebelum mengajukan hipotesis, peneliti melakukan pengamatan atau studi pustaka terlebih dahulu.  Hipotesis inilah yang nantinya akan dibuktikan dalam sebuah eksperimen.

Contoh hipotesis dengan rumusan masalah di atas adalah” Dosis pupuk urea berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau” (Sekali lagi ini diperoleh setelah melakukan pengamatan atau studi pustaka)

c. Menguji Hipotesis

Untuk menguji apakah hipotesis benar, seorang peneliti melakukan eksperimen. Hal-hal yang harus dilakukukan pada tahap ini adalah :

  • Perencanaan : Pada perencanaan peneliti menyiapkan alat dan bahan, serta bagaimana langkah-langkah kerja yang akan dilakukan harus sudah disusun secara lengkap.
  • Pelaksanaan eksperimen : Pada tahap ini peneliti melakukan perlakuan terhadap semua kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak. Sebagai contoh dari rumusan masalah diatas, ada beberapa kelompok eksperimen yang diberi pupuk dengan dosis yang bervariasi sebagai variabel bebas, dan ada satu kelompok yang tidak diberi pupuk sebagai variabel kontrol
  • Observasi dalam eksperimen: Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan secara teliti setiap perubahan dan gejala apa yang terjadi pada kelompok eksperimen dalam kurun waktu tertentu. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat ukur maupun melalui alat indra. Dari pengamatan ini diperoleh data.

d. Mengolah Data

Melalui observasi dalam eksperimen, maka diperoleh data  dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Data kuatitatif adalah data yang berupa angka-angka yang diperoleh melalui pengukuran, misalnya ukuran tinggi batang, lebar daun, panjang akar dan sebagainya. Sedangkan data kualitatif adalah data bukan berupa angka dan diperoleh melalui pengamatan  indera saja, dan dinyatakan dalam kalimat (narasi), misalnya keadaan daun apakah terlihat segar atau layu, apakah berwarna hijau atau kekuningan dan sebagainya.

Setelah diperoleh data, maka semua data terutama data yang berupa angka diolah secara statistik. Sehingga diperoleh hasil apakah hipotesis terbukti atau sebaliknya.

e. Menarik kesimpulan

Bagian ini menuliskan  apa saja yang terbukti dalam eksperimen yang telah dilakukan. Kesimpulan ditulis sesuai dengan rumusan masalah.

f. Mengkomunikasikan hasil

Setelah ditarik kesimpulan dari penelitian. Maka hasil penelitian tersebut dikomunikasikan kepada orang lain (masyarakat), dengan cara dibuat laporannya kemudian dipresentasikan. Biasanya penelitian yang dilakuakan para ahli dipublikasikan melalui jurnal ilmiah.

Dalam melakukan suatu metode ilmiah, maka para peneliti haruslah mempunyai sikap ilmiah. Sikap – sikap ilmiah yang harus dimiliki seorang peneliti yaitu :

  • Berani dan bersikap santun dalam mengajukan pertanyaan dan argumentasi
  • Mengembangkan keingintahuan pada sesuatu
  • Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan
  • Berpendapat secara ilmiah dan kritis
  • Berani mengusulkan perbaikan dan bertanggung jawab terhadap usulan – usulan yang diajukan
  • Mau bekerjasama
  • Jujur terhadap fakta
  • Disiplin dan tekun

 

Keselamatan Kerja

Sebagian besar penelitian ilmiah dilakukan di laboratorium. Secara umum, laboratorium adalah suatu bangunan yang di dalamnya terdapat berbagai peralatan dan bahan-bahan untuk melakukan percobaan ilmiah, melakukan penelitian, praktik pembelajaran, pengujian, atau kalibrasi alat tertentu.

Biasanya, laboratorium dibedakan sesuai dengan bidang keilmuan yang diteliti sehingga dikenal adanya laboratorium biologi, laboratorium fisika, dan laboratorium kimia.

Bekerja di laboratorium dengan nyaman akan memengaruhi kelancaran aktivitas kerja dan menghindari kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja di laboratorium dapat terjadi karena kelalaian diri sendiri atau orang lain yang bekerja di dalam laboratorium. Artinya, semua pemakai laboratorium sangat berperan dalam terciptanya keselamatan kerja.

Kecelakaan kerja di laboratorium dapat menimbulkan kerugian materi serta adanya korban manusia. Kecelakaan kerja dapat menyebabkan korban mengalami luka, cacat fisik, gangguan kesehatan, trauma, bahkan dapat mengancam nyawa seseorang. Semua kemungkinan ini dapat dicegah dengan memperhatikan pedoman keselamatan kerja di laboratorium.

Pengenalan bahan kimia merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang yang bekerja di laboratorium, termasuk para siswa. Menurut bentuknya, bahan kimia dapat berupa padatan, cairan, ataupun gas.Sebagian bahan kimia bersifat berbahaya bagi lingkungan, mudah terbakar, mudah meledak, korosif, beracun, merusak organ tubuh, atau meracuni ikan, serangga dan makhluk hidup lainnya. Bahan kimia biasanya dikemas dengan baik dan di setiap kemasan terdapat label dan simbol yang merupakan informasi standar yang diakui di seluruh dunia. Informasi tersebut menunjukkan sifat yang dimiliki bahan kimia tersebut sehingga kita tahu bagaimana seharusnya menangani bahan kimia tersebut. Beberapa simbol yang sering dijumpai pada kemasan bahan kimia adalah sebagai berikut.


Setiap laboratorium, di mana pun, selalu memiliki peraturan yang pada dasarnya bertujuan untuk menjaga ketertiban, kelancaran, keamanan, dan kenyamanan bekerja di dalam laboratorium. Sebelum bekerja di laboratorium, setiap siswa harus sudah memahami beberapa hal penting, antara lain:

1) memahami tata tertib laboratorium;

2) memahami prosedur kerja yang akan dilakukan di laboratorium;

3) mempersiapkan perlengkapan keselamatan kerja (misalnya kacamata, jas, sarung tangan karet);

4) memahami pertolongan pertama pada kecelakaan kerja di laboratorium.

Berikut ini merupakan contoh tata tertib yang umum di laboratorium:

1) Selama bekerja di dalam laboratorium harus mengenakan jas laboratorium.

2) Setiap pengguna laboratorium harus menjaga ketertiban, kebersihan, dan keamanan laboratorium.

3) Dilarang bekerja sendirian di laboratorium.

4) Dilarang bersenda gurau di laboratorium.

5) Dilarang bermain-main dengan peralatan laboratorium dan bahan kimia.

6) Sebelum bekerja di laboratorium siapkan buku kerja dan alat tulis.

7) Pelajari dengan saksama jenis percobaan, jenis bahan, jenis peralatan, dan cara membuang limbah sisa percobaan.

8) Dilarang makan, minum, dan merokok di dalam laboratorium.

9) Jagalah kebersihan meja percobaan, apabila meja percobaan basah, segera keringkan dengan lap.

10) Setiap praktikan harus mencatat semua kegiatan dengan selengkaplengkapnya.

11) Gunakan peralatan kerja khusus, seperti kacamata pengaman, untuk melindungi mata

12) Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.

13) Biasakanlah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, terutama setelah melakukan percobaan.

14) Apabila terjadi kecelakaan yang berkaitan dengan bahan kimia, laporkan segera kepada asisten.

15) Matikan keran air dan aliran listrik sebelum meninggalkan laboratorium


 

Artikel Terkait

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan